11 October 2012

Cuplikan Perahu Kertas { Inspiring }

Sudah baca novel karangannya Mbak Dee?
Tentu sudah pada baca ya atau juga mungkin sudah pada nonton, karena novelnya berhasil masuk dalam layar lebar.

Kalau saya sih jujur, belum nonton karena tidak ada bioskop disini...hiks..hiks.. :-(
Jangankan bioskop, buat cari novelnya aja susah. Dikarenakan toko buku yang terbatas dengan penawaran buku yang terbatas pula. Mungkin bisa saja sih sob, lewat online. Tapiiiiii, saya kan harus berhemat :-D
Tapi jangan takut, yang bernasib sama seperti saya tetap masih bisa baca kok walau gak bisa dimiliki. Selain itu terkadang "Google Book" juga gak lengkap, halamannya banyak yg hilang. Hahaha... *Apes banget ya :-D
Kalau yg mau coba, nih caranya...
Searching aja dari Google, masuk ke menu lainnya pilih buku (dalam versi indonesia) atau book (versi inggris). Lalu ketik judul buku yg anda cari dalam kotak searching dan muncul deh. Selamat membaca ^__^

Kali ini saya hanya ingin mereview beberapa kalimat menarik dari novelnya Mbak Dee "Perahu Kertas", yang mungkin bisa menjadi inspirasi bagi kita semua. Tapi ingat looo ini versi saya, mungkin saja kamu yang pernah membaca atau bahkan menonton film nya memiliki versi yang berbeda. *Bebas! Karena banyak kreasi itu indah :-)













Kugy : Mungkin kita sudah ketemu di kehidupan lampau....
#Perahu Kertas, halaman 25

"Teman-teman, sudah saatnya kalian tahu bahwa gue ini sebetulnya...,"Kugy menahan nafas, suaranya bergetar "...alien."
Gua sebetulnya anak buah Neptunus yang dikirim ke Bumi untuk jadi mata-mata," papar Kugy lagi
#Kugy_Perahu Kertas, halaman 33

"Nama kamu yang paling unik ya, tepatnya yang paling aneh," Kugy tergelak, kayaknya waktu itu orang tuaku habis bahan. Masih untung gak jadi Karbol."
#Kugy_Perahu Kertas, halaman 36

"Jadi...kamu ingin menjadi sesuatu yang bukan diri kamu dulu, untuk akhirnya menjadi diri kamu yang asli, begitu?"
Yah, kalau memang harus begitu jalannya, kenapa nggak?"
"Asal kamu tahu, di negara ini, cuma segelintir penulis yang bisa cari makan dari nulis tok."
#Perahu Kertas, halaman 37

Warung nasi dengan dinding bambu itu tampak padat. Orang-orang berderet memilih makanan yang disajikan prasmanan. Keenan berhenti sejenak untuk membaca plang yang tergantung di pintu : "Warteg Pemadam Kelaparan".
#Perahu Kertas, halaman 42

"Menurut survei : selain narik becak dan gali kubur, pekerjaan mengkhayal dan menulis ternyata juga butuh asupan kalori tinggi", sahut Kugy.
#Perahu Kertas, halaman 43

Ini pasti karena kita dulunya sama-sama utusan Neptunus.
#Kugy_Perahu Kertas, halaman 45

Dalam cerpen itu, saya tidak menemukan diri kamu. Yang saya temukan adalah penulis yang pintar merangkai kata-kata, tapi nggak ada nyawa,"
#Keenan_Perahu Kertas, halaman 54

"Gerimis, melukis, menulis...satu saat nanti, kita jadi diri kita sendiri," *Kugy
Keenan : Bulan, perjalanan, kita..."
#Perahu Kertas, halaman 62

Dan anak itu kayaknya terlalu antisosial untuk cari pacar sendiri.
#Noni_Perahu Kertas, halaman 77

Kugy merapikan baju terusan hitam selututnya. Baju terbaik yang pernah ia miliki dan tak pernah keluar lemari saking istimewanya.
#Perahu Kertas, halaman 82

Yang jelas kalo lu ternyata nggak punya feeling sama dia, jangan juga lu gantungin, apalagi ngasih harapan
#Eko_Perahu Kertas, halaman 128

Dari pertama kita jadian, gue selalu berusaha ngejar dunia lo. Tapi lo bukan cuma lari, lo tuh terbang. Dan lo suka lupa, gue masih di Bumi. Kaki gue masih di tanah. Gimana kita bisa terus jalan kalo tempat kita berpijak aja beda.
#Ojos_Perahu Kertas, halaman 147

Kamu bebas percaya apapun yang kamu mau. Saya nggak bisa mengubah anggapan kamu. Hanya kamu sendiri yang bisa. *Keenan
Aku nggak butuh maaf kamu. I just want you to love me. Why can't you just love me? *Wanda
#Perahu Kertas, halaman 152

Selama ini ia menyangka punya tempat spesial dalam hidup Keenan. Ternyata ia salah. Dirinya kini tak lebih dari figuran tak berarti.
#Kugy_Perahu Kertas, halaman 168

Kamu bisa beli lukisan-lukisan ini, Wanda, tapi kamu nggak akan pernah bisa membeli saya.
#Keenan_Perahu Kertas, halaman 178

Nasi bisa dibeli, tapi rasa percaya? Seluruh uang di dunia ini tidak cukup membelinya.
#Perahu Kertas, halaman 181

Tanpa kekosongan, siapa pun tidak akan bisa memulai sesuatu.
#Luhde_Perahu Kertas, halaman 205

Langit ini cuma tertutup awan. Kalau Keenan bisa menyibak awan-awan itu, Keenan akan menemukan banyak sekali bintang. Dan dari sekian banyak bintang, akan ada satu yang berjodoh dengan kita.
#Luhde_Perahu Kertas, halaman 206

Kenangan itu cuma hantu di sudut pikir. Selama kita cuma diam dan nggak berbuat apa-apa, selamanya dia tetap jadi hantu. Nggak akan pernah jadi kenyataan.
#Luhde_Perahu Kertas, halaman 221

Sama seperti jodoh, Nan. Kalau punya masalah, tidak berarti harus cari pacar baru, bukan? Tapi rasa cinta kamu yang harus diperbarui. Cinta bisa tumbuh sendiri, tapi bukan jaminan bakal langgeng selamanya, apalagi kalau tidak dipelihara.
#Pak Wayan_Perahu Kertas, halaman 230

Dimanapun kamu.. semoga pesan ini sampai, meski tanpa perahu.. aku sangat kehilangan kamu.
#Kugy_Perahu Kertas, halaman 232

Buat apa dia kembali? Buat apa muncul sejenak lalu menghilang lagi nanti?
#Kugy_Perahu Kertas, halaman 332

Kita nggak pernah tahu kalau nggak dicoba.
#Kugy_Perahu Kertas, halaman 376

Poyan percaya hidup ini sudah diatur. Kita tinggal melangkah. Sebingung dan sesakit apa pun, semua sudah disiapkan bagi kita. Kamu tinggal merasakan saja.
#Pak Wayan_Perahu Kertas, halaman 391

Pada akhirnya, tidak ada yang bisa memaksa. Tidak juga janji atau kesetiaan. Tidak ada. Sekalipun akhirnya dia memilih untuk tetap bersamamu, hatinya tidak bisa dipaksa oleh apapun, oleh siapapun.
#Pak Wayan_Perahu Kertas, halaman 391

Secerdas-cerdasnya otak kamu, nggak mungkin bisa dipakai untuk mengerti hati. Dengerin aja hati kamu.
#Karel_Perahu Kertas, halaman 404

Carilah orang yang nggak perlu meminta apa-apa, tapi kamu mau memberikan segala-galanya.
#Remi_Perahu Kertas, halaman 427

Hati tidak pernah memilih. Hati dipilih. Karena hati tidak perlu memilih. Ia selalu tahu ke mana harus berlabuh.
#Luhde_Perahu Kertas, halaman 430

No comments:

Post a Comment