Skip to main content

Belajar Arti Hidup dari Seorang Supir Angkot

-Intro-
Treng...teng...teng...tereng...treng...teng...teng...tereng... *Argh, intro kajol... :-D

Salam romantis dari aye, "Assalamualaikum wr wb, bloger's"
Hai...hai...hai...sobat bloger's, hellowwwwwwwww
Kali ini saya akan menggali seluruh inspirasi agar banyak tulisan yang bisa di share.
Berhubung kuliah lagi libur dan baru masuk tgl 19 Maret 2012 nanti. *Ada yang mau ngasih part time job gak??? Nyuci-nyuci piring di warung juga gak apa-apa deh.. yang penting menghasilkan dan halal. Dan terpenting lagi, kekosonganku bermanfaat ^__^

Postingan kali ini berhubungan dengan sesuatu *masih demam syahrini, hihi :-D
Ok serius gan!!!:-p
Jadi sesuatu itu adalah sesuatu yang tak pernah menduakan aku, yang selalu setia menemaniku, kehadirannya selalu ku tunggu-tunggu, karena aku tak mampu hidup tanpa dirimu wahai "Angkot". Hahaha *tertipu ni ye...
Yes, sebagai jasa pengguna angkot, banyak sekali pengalaman yang pernah kujejali karena si beliau itu. Mulai dari hampir kecopetan,ketemu orang setengah waras,1/2 mati hampir mati dan muaaaaaasihhhh banyak lagi gan. *Gak kelar-kelar nanti kalau dijabarin.

Berbicara tentang angkot, maka tak lepas dari sang pengemudinya "supir angkot". 
Sebenarnya udah lama sih dan dari udah lama itu juga harusnya aku posting, tapi tiba-tiba terbawa mood, hahaha :-D. *Ngeles, bilang aja males.huhui

Cerita ini bermula tepatnya ketika aku pulang kerja dan menuju kampus. *Sorry, lupa tanggal atau harinya.
Kesan pertama ketika ketemu tuh supir, "nyebelin". *Maaf :-D
Kenapa nyebelin?
Soalnya, kan cuma aku sendiri tuh penumpangnya. Terus tuh supir ngomong ginih, "teh, saya cepet bawa angkotnya gak apa-apa kan?"
Aku jawab, "Pelan-pelan aja, soalnya saya gak buru-buru kok".
Dia malah nimbrung, "Cepetan aja ya".
Aku jawab lagi, "Gak usah aja".
Eh... dia ngotot bilang, "Cepetan aja".
Terakhir aku diam aja, males ngeladenin.

Gile aja sob, benar-benar tuh supir. Dia mepet-mepetin jalanan kecil gituh, salip-salip kanan-kiri. Busyet... udah hampir mau mati. #hahaha
Akhirnya, pas diperempatan jalan dia mengurangi kecepatannya dan obrolan pun dimulai.
- "S" Supir, "A" Aku-
S : Maaf teh saya ngebut, soalnya ngejar setoran.
A : Diam (dalam hati bergumam, "bilang kek dari tadi, ngejar setoran. hufh")
S : Kerja teh?
A : Iya...
S : Dimana?
A : Di ITCC
S : ITCC Jakarta?
A : Bukan, itu ITC bukan ITCC, ITCC Jatiluhur.
S : Oh iya ITC, "C" nya satu ya bukan dua. Apa itu teh?
A : Indosat Training & Conference Center
S : Ohhh Indosat...
A : Bukan, tempat training (pelatihan) nya
S : Teteh dibagian apa?
A : Marketing & Administration 
S : Marketing yang jualan2 gitu? Jualan apa teh?
A : Iya, tapi saya bukan jual produk melainkan jualan fasilitas (tempat training) ke perusahaan-perusahaan yang membutuhkan tempat untuk mereka gunakan sebagai tempat pelatihan, workshop, seminar, raker, seperti itu.
S : Ow, iya...iya saya tahu. Teteh ini marketing kan, terus apa bedanya dengan management marketing?
A : (waduh, nih supir nguji). *Aku jawab aja seadanya. "Kalau marketing itu memasarkan produk-produk yang ingin mereka jual, sedangkan manajemen marketing bertugas mengatur jalannya jualan itu seperti apa, mulai dari konsep jualannya, target konsumen, sampai target pencapaian".
S : Ih, pintar si teteh.
A : :-) (Alah, bilang aja gue senang dipuji. *Gubrakkakakakkkk) 
S : Nah, itu saya teh. "Manajemen marketing", tapi marketing angkot. Yah, walaupun punya tiga angkot lumayanlah teh. Jadi, teteh mau pulang ini?
A : Enggak, saya mau ke kampus dulu.
S : teteh kuliah, dimana?
A : Itu yang di sadang.
S : Ow, jadi teteh kuliah yang disadang itu? Iya, iya tahu teh. Udah berapa lama teteh kerja?
A : Baru setahun.
S : Disana nerima tamatan apa teh?
A : Rata-rata sih pada SMA Pak, soalnya kita outsourcing bukan staff tetap.
S : Bapak? wah, saya udah tua ya teh? *sambil ngelihat ke kaca angkotan umumnya. Ow,teteh kuliah ambil jurusan apa?
A : Business administration tapi entar jatuhnya Akuntansi juga.
S : Ow akuntansi. Kalau bisa teh, ntar buka lowongan kerja aja jangan mau kerja sama orang terus teh. Gak enak teh, yang ada bikin sakit hati. Saya dulu juga kerja sebelum nyupir angkot teh, tapi saya berhenti daripada sakit hati. Saya lihat teh ditempat kita ini kalau kita masih muda aja ditunjuk-tunjuk,nama kita dibesar-besar kan. Tapi, kalau kita udah tua kita gak dipakek teh. Dan mereka selalu mencari cara bagaimana kita supaya gak betah lagi kerja ditempatnya. Dengan begitu kan kita mengundurkan diri, jadi mereka kan gak susah-susah ngeluarin pesangon. Aku dulu kerja teh tapi akhirnya berhenti, padahal teh aku tuh mau dapat beasiswa dari perusahaan ku untuk disekolahin lagi.
A : Terus, kenapa berhenti?
S : Yah...biasa teh gara-gara cewek. (Dia pun bercerita panjang tentang ceweknya...)
A : :-) *haha, ini penyakit laki-laki kalau udah cinta mati semua dikorbanin. (Berhati-hatilah kaum adam!!! hehe) *Bukannya mau jelek2in cewek, gue juga cewek lo. But, gak semua kaum hawa kok seperti itu gan ^__^
S : (Melanjutkan ceritanya kembali), oh iya teh, coba cari-cari kerja di Jakarta. Tapi hati-hati teh, Jakarta itu besar pendapatan besar juga pengeluarannya. Jangan sampai buta aja teh, soalnya disana serba lengkap. Club malam ada, diskotik ada, macam-macamlah teh. Aku juga dulu suka kesana, tapi sekarang udah insyaf aku teh. Gak ada gunanya hal-hal semacam itu. Sekarang enakan begini teh, punya angkot walau masih tiga tapi halal teh. Aku hanya terima setoran tiap harinya, kalau aku gak ada kerjaan, aku bisa narik angkot teh. Pulang kerumah bisa kapan aja, jadi bisa lebih lama berkumpul sama anak-anakku dan istriku.
A : Merintis Pak, mana tahu nanti punya angkot lebih banyak.
S : Amin teh. Aku heran teh lihat cewek zaman sekarang, sombong-sombongnya, selalu menganggap remeh pekerjaan supir angkot. Tapi, si teteh ini kelihatannya baik.
A : *Asyeekkk, dipuji lagi. Hahaha (Amin Pak, semoga ucapan anda menjadi do'a buat saya) Kiri Pak, saya disini.
S : oh, iya teh...
A : (turun dari angkot) Terima kasih Pak.
S : sama-sama teh.

Lebih kurang seperti itulah percakapan kami sob sepanjang perjalananku dari kantor menuju kampus. Ada beberapa hal yang bisa kita petik dari obrolanku bersama Pak supir angkot, hehe...

Pertama, jangan buta dengan harta, tahta dan wanita/pria.

Kedua, jangan menganggap remeh pekerjaan seseorang. Waspada sah-sah saja, tetapi bukan berarti negative thingking yang anda mainkan dalam mindset anda ketika bertemu orang apalagi untuk pertama kalinya. *Don't judge from the cover*.

Ketiga, gali rezeki yang berkah & halal, karena rezeki Allah swt tersebar dimana aja.
Yang penting usaha--do'a--tawakal. ^__^

Terima kasih Pak supir atas pelajaran berharganya.
Salam buat istri dan anak-anakmu dan jangan patah semangat.
Keep spirit... keep smile... ^__^              

Comments

Popular posts from this blog

PLN Part 3 ~Tes Potensi Akademik (TPA) & B.Inggris

Akhirnya Tes GAT terlewati, 2 jam di ruang uzian berhasil membuat sedikit agak bernafas lega dan otot-otot serta syaraf yang tegang rileks kembali. Sebelum keluar dari ruangan, panitia sudah mengumumkan bahwa hasil tes akan diumumkan hari itu juga paling lambat sekitar pkl 20:00 wib. Dan bagi peserta yang lanjut dapat mengikuti tes kembali besok di ruangan yang sama. Arghhh..leganya, alhamdulillah semua soal dapat saya jawab dan menyelesaikannya tepat waktu. Yah, meskipun agak sedikit ragu. Karena materi yang dikerjakan hanya sekitar 30% dari buku yang saya beli satu minggu yang lalu di Gramedia :-( Tapi wait..soal gak terlalu sulit kok, yang terpenting anda fokus dan jangan lupa berdo'a sebelum uzian :-) Selesai tes, saya shalat dulu karena belum sempat shalat zuhur tadi sebelum tes. Dan saya pulang... Sesuai arahan panitia, saya mengecek website PLN untuk mengetahui hasil tes. Ternyata belum ada. Dan sekitar pkl 23:00 wib saya buka kembali, ternyata sudah ada ...

Eye Level

Keputusanku untuk kembali ke medan setelah wisuda, bulat sudah. Banyak hal yang sudah difikirkan masak-masak sebelum memutuskan. Bukan gampang! Meninggalkan posisi karier yg terbilang sudah cukup lumayan dari segi apapun. Tapi setiap perjalanan harus ada pengorbanan, don't be egoistic!!! Ada banyak pertimbangan meninggalkan semua rutinitas di Jawa dan hidup entah seperti apa di Medan. Ya, itulah yang ada di benakku tatkala itu. Pertama, keluarga Kini kami hanya tinggal berempat. Ayah adalah bapak dan ibu bagi kami. Rasanya tidak tega harus meninggalkan ayah dan dua adikku setelah ditinggal pergi mama. Mengurus ini dan itu seorang diri. Membereskan segala sesuatunya sendiri. Ya sih masih ada fanny yg dibilang sudah cukup dewasa. Tapi, aku mengenal betul watak fanny dari kecil. Fanny bukan typikal orang yg care abis sama rumah. Care sih tapi gak pakai banget. Belum lagi si Raisya, masih terlalu kecil untuk harus memahami semua ini. Dia akan merasa kesepian karena hanya memiliki...

Jadi Orang GEDE Menyenangkan, Tapi Susah Dijalani ~Think Again?

Hellowwwwwww Masih pada semangat kan? Semangat dong! Judulnya boleh 'Ramadhan' , tapi semangatnya harus semangat 'Idul Fitri' dong :-D Saya hanya ingin berbagi bacaan ringan di siang hari ini, yang di copas dari salah satu iklan di stasiun TV. Iklannya cukup unik, menarik dan kata-katanya juga bagus. Ya sudah, daripada penasaran mendingan langsung kita baca Let see and happy read it... :-) ~Versi Cowok Kalo aku udah gede, aku mau jadi eksmud :-) Mau jadi Bos :-D Hari-hari ngomong campur bahasa Inggris... Tiap Juma't pulang kantor, nongkrong bareng sesama eksmud, ngomongin proyek besar biar kelihatan sukses :-D Suara agak digedein, biar kedengaran cewek di meja sebelah :-O Kalo weekend, sarapan di cafe sambil sibuk laptopan... Pesen kopi secangkir harga 40 ribuan, minumnya pelan-pelan biar tahan sampai siang demi wifi gratis. Kalo tanggal tua, pagi-siang-malam makannya mie instan :-D *gue banget :-(( Kalo mau nelpon, bisanya cuma miscall Jadi Ora...