Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Cerpen

GADIS PAYUNG

Sore itu hujan tak henti-hentinya. Ribuan manusia silih berganti menapaki jalan-jalan becek yang sedari tadi dihiasi sang hujan. Ada yang duduk membisu menunggu redanya hujan, agar melanjutkan perjalanan kembali dengan lancar. Ada yang nekat hujan-hujanan, dengan tak menghiraukan kedatangan sang hujan. Para pengguna motor juga demikian, ada yang berteduh dan bersabar menunggunya hujan reda. Ada pula yang nekat hujan-hujanan, tanpa menghiraukan jalanan licin. Sore itu, mall dipadati pengunjung. Warung-warung kecil dipadati para peneduh hujan. Para pejalan kaki mulai meminggir dari jalanan, tetapi jalan tetap saja macet. Karena para manusia cenderung lebih egois disaat hujan tiba. Mereka berlomba-lomba untuk sampai ditempat tujuan, tanpa memikirkan keselamatan atau kecelakaan apa yang terjadi. Nada terduduk di salah satu pusat perbelanjaan, menunggu hujan yang sedari tadi tak juga reda. Jika ia nekat, maka basahlah seluruh pakaiannya. Dengan khidmat, ia pandangi seisi jalan yang hamp...

CINTA SANG EMBUN

Benar kata pepatah, "Bagaikan pungguk merindukan bulan". Kira-kira begitulah aku menafsirkan diriku saat ini. Mencoba menata ulang kembali apa yang ada di hati dan apa yang terbesit di otak. Malam kian larut, kupandangi hujan yang sedari tadi ikut menangis bersama jeritan hatiku. Tak ada yang tahu, hanya aku, Tuhan dan hatiku yang tahu apa yang sedang berkecamuk dipikiranku. "Sudah, ikhlaskan saja!" Kira-kira begitulah statement yg ada di akal positifku "Jangan, kamu gak sayang dengan perjuanganmu?" Sang pemilik akal negatif mencoba menggodaku Aku hanya bisa diam, duduk dan kupandangi langit yang sedari tadi masih bahagia menurunkan hujannya. Mencoba mengartikan huruf demi huruf, kata demi kata bahkan kalimat demi kalimat yang telah ku kirim dalam pesan singkat itu beberapa tahun yang lalu. Yah, cerita itu berawal beberapa tahun yang lalu. Sebut saja, namaku Embun. Aku memiliki seorang teman dekat yang bernama Femi. Aku cukup dekat dengan Femi, 3 ...

Pesan Malam Itu

- Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? - Malam itu sama seperti 3 malam berturut-turut kemarin, hujan selalu menghiasi perjalananku usai mengabdi di sebuah perusahaan menuju perjalanan pulang. Malam ini hujannya tidak sederas malam kemarin, hanya titik demi titik membasahi payung yang selalu menjadi teman setiaku menuju rumah. Sehingga aku tidak memilih untuk berteduh seperti kemarin, melainkan melanjutkan perjalananku ke rumah agar tidak sampai dirumah larut malam. Sore itu, ketika mata kuliah ditutup oleh import-practise. Sang dosen berkata, "setelah dari kampus, kalian langsung pulang?" Semua dari kami, menjawab "iya". "Hang out dulu, jangan langsung pulang. Nanti kalau sudah jam 9 malam, baru pulang. Banyak ilmu diluar". Lanjut sang dosen. Ketika perjalanan dengan bus antar jemput Bandung-Purwakarta, salah seorang teman mengajakku main sore itu.  "ke wiskul, yuk!" Ajaknya Aku menolak ajakannya, karena merasa sudah ter...

Pak Supir! Bersabarlah...

"Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah swt rezekinya". (Q.S Hud : 6) Sore itu ketika langit sedang asyiknya berganti warna menjadi keabu-abuan, dilengkapi suara adzan maghrib yang berkumandang dari masjid-masjid terdekat. Aku menghentikan langkah disebuah perempatan jalan, untuk berganti angkot menuju perjalanan ke rumah. Maklum saja, perjalanan dari kantor ke rumah yang memakan waktu hampir setengah jam itu. Membutuhkan dua kali pergantian angkot, karena tidak ada yang satu jurusan baik menuju rumah maupun kantor. Langkahku pun berlanjut dengan hadirnya sebuah motor angkot yang kutunggu sejak 3 menit berdiam diri dijalan. Angkot sore itu sunyi, hanya ada aku sendiri sebagai penumpang dan pak supir angkot. Mungkin karena maghrib sudah tiba, orang-orang memilih untuk kembali setelah maghrib.  Seperti biasa, pak supir memilih mengetem di sebuah jalan yang ramai pertokoan dengan harapan ada penumpang lain yang mena...

Panti Jompo Untuk Mama

Siang itu Raka begitu menikmati permainan bolanya bersama sang ayah. Raka yang sangat menanti-nanti waktu istimewa ini, tak ingin meninggalkan tiap detik yang ia miliki untuk dihabiskannya bersama kedua orang tuanya. Maklum saja, Raka yang semenjak kecil hingga duduk di kls 5 SD belum pernah merasakan dimanja oleh kedua orang tuanya yang selalu sibuk dengan dunia mereka masing-masing. Ayah Raka adalah seorang pengusaha dan ibunya adalah wanita karir yang karirnya sedang menanjak ambang popularitas di kantornya. Dari Raka balita hingga duduk di bangku kls 4 SD, ia dirawat oleh ibu dari ayahnya yakni neneknya. Ibunya yang merasa mertuanya sudah tidak layak lagi merawat Raka karena sudah lansia, kini mencarikan pembantu untuk mengurus kebutuhan Raka. Pagi itu tatkala Raka ingin pergi kesekolah, seperti biasa ia selalu mencari neneknya. "Nek..nek, abang mau ke sekolah nih". Teriak Raka Tetapi, tidak ada sahutan dari dalam kamar neneknya. "Mbak, nenek mana ya?" Tany...

Buah Dari Kesabaran

Sebut saja namanya "Cici", wanita pelajar di salah satu sebuah sekolah musik di Cina. Setiap kembali dari sekolah, Cici selalu mendatangi sebuah lapangan yang biasa ia lalui yang selalu ramai dikunjungi orang-orang. Sore itu, suasana lapangan masih ramai seperti biasanya. Indahnya alunan musik dari sebuah biola yang dimainkan oleh seorang pria lansia, inilah yang membuat kharismatik lapangan tersebut. Pria itu adalah seorang pengemis, yang memungut yuan demi yuan dari para pendengar biola yang dimainkannya. Cici begitu tertarik dengan keindahan suara biola yang dimainkan Pak tua tersebut. Cici adalah gadis remaja yang terlahir tak seperti teman-teman lainnya. Ia hanya mampu berbicara dengan menggunakan sandi-sandi melalui tangannya. Perbedaan itu harus membuat Cici tegar menerima cobaan dari Tuhan, bahkan tidak memiliki teman sekalipun. Yona, adalah teman wanita sekelas Cici yang begitu iri dengan Cici. Meski bisu, ternyata Cici begitu berbakat pada sebuah biola. Sedangkan...

SALAM PENULIS ^__^

Assalamualaikum bloger's ^__^ Sesi kali ini, aku sempatin nulis cerpen ya.  Ini mutlak hasil kreatifitas otak saya ya :-) Tidak ada unsur menjiplak atau istilah copy paste. Mohon maaf kalau didalam cerpen tersebut,terdapat kesamaan nama,tempat atau mungkin peristiwa.  Ini sama sekali diluar kendali saya sebagai penulis. Saya hanya mencurahkan seluruh apa yang ingin saya sampaikan dari dalam benak saya saja. Cerpen-cerpen ini terinspirasi dari lingkungan sekitar yang saya daur ulang kembali dalam bentuk imajinasi saya semata. Selamat membaca...semoga terhibur... ^__^     Salam Penulis

Kasih Tak Sampai

"Tetaplah menjadi bintang di langit... Agar cinta kita akan abadi... Biarlah sinarmu tetap, menyinari alam ini. Agar menjadi saksi cinta kita...berdua...". (Kasih tak sampai, by: PADI) Alya meneteskan air mata tiada henti. Taxi berwarna biru yang melaju dengan cepat sebagai saksinya. Hari itu seakan badai menerjang dan gemuruh langit menyapa. Sambil mengusap lembut tetesan hujan yang membasahi pipinya, Alya tak menghiraukan suara yang bersumber dari telepon genggamnya. Hingga telepon itu dinon-aktifkannya. Tangis Alya semakin menjadi-jadi. Tidak ada orang lain di taxi itu selain ia (Alya), supir taxi dan sebuah lagu yang mengiringi jalan mereka. "Sudah,terlambat sudah...ini semua harus berakhir. Mungkin inilah jalan yang terbaik...dan kita mesti relakan kenyataan ini ". "Dimas..." (Panggil Alya lirih sambil mengusap butiran-butiran air yang menetesi pipinya) "Hiks...hiks...hiks..." "Jalan Diponegoro No 24 Mbak?" (Tanya supir taxi) ...

ARINDI

          Pagi ini begitu indah. Kicauan burung menemani pagi terasa lengkaplah sudah, meski diluar sana cuaca sedang tidak bersahabat. Hujan yang tak kunjung reda ketika menjelang azan subuh hingga mataharipun bersembunyi di balik awan tak ingin menampakkan sinarnya. "Hmmm, cool...". (Ucap seorang wanita yang sedang beranjak dewasa dari balik kamarnya sambil mengusap-usap rambutnya yang basah). Namanya Arindi, lengkapnya Arindi Putri Asri. Arindi atau biasa disapa Arin adalah seorang pelajar menengah atas yang sekarang sedang duduk di bangku kelas XI. Hari ini Arin tidak masuk sekolah karena hari libur. "Saatnya berkemas-kemas! Jadi gak sabar nunggu besok". (Lirih Arin) "Rin, jangan lupa sport shoesnya, jaket ntar hujan kedinginan kamu. Kaus kaki, selimut, bla,bla,bla,bla,bla". (Seru seorang wanita paruh baya dari balik kamar Airin yang tak lain tak bukan adalah Ibunya). "Iya, iya Ma. Gak lupa kok". (Jawab Airin) Ibu Arin adalah orang yang ...